-Roki Aprisdianto kabur dari Rumah Tahanan Khusus
Written By SAMO News on Rabu, 07 November 2012 | 06.35
Sejumlah
personil Brimob bersiap menggerebek rumah dua orang terdugateroris di
kelurahan Kanyamanya, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, (3/11). ANTARA /
Zainuddin MN
TEMPO.CO, Jakarta--Roki
Aprisdianto, teroris yang kabur dari Rumah Tahanan Khusus Narkoba
Kepolisian Daerah Metro Jaya, punya catatan khusus dunia terorisme. "Dia
merupakan otak jaringan Solo," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat
Mabes Polri Inspektur Jenderal Suhardi Alius di Polda Metro Jaya pada
Rabu, 7 November 2012.
Suhardi mengatakan Roki alias Atok Prabowo ditangkap pada Januari 2011 lalu di Klaten oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror. Kemudian pada akhir 2011 dia bersama lima orang jaringannya divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena terlibat beberapa aksi teror. Roki divonis enam tahun penjara karena merupakan otak jaringan dan rekannya lima tahun penjara.
Keterlibatan Roki di dunia teror bermula dari pengajian di Masjid Muhajirin, Klaten, pada tahun 2008. Selang beberapa waktu kemudian, Roki mengumpulkan kelima rekannya di Masjid Tarbiyah, Sukoharjo yaitu Agung Jati Santoso, Tri Budi Santoso, Nugroho Budi Santoso, Yuda Anggoro, dan Joko Lelono.
Di sanalah ia mendoktrin arti penting jihad dengan cara amaliat ightalayat, yakni menyerang serta membunuh orang kafir serta orang yang tunduk pada hukum pemerintah Republik Indonesia. Sejak saat itu, Roki mendaulat dirinya sebagai Amir, pimpinan utama timightyalat, dan membentuk struktur organisasi.
Ia pun mewajibkan anggotanya mengikuti pelatihan fisik dan memfasilitasi sebagian anggota tim keahlian merakit bom melalui Irfan, murid Neril, alias Soghir, yang merupakan murid langsung (alm.) Dr Azhari. Gerakan ini mendapat dukungan dana dari kelompok Tim Hisbah pimpinan Sigit Qordowi.
Bantuan dana itu mereka belanjakan sejumlah bahan material pembuat bom berdaya ledak rendah seperti Portasium Nitrat. Bom rakitan itu lalu mereka letakkan di sejumlah tempat seperti pos polisi Dukuh Kerunbaru, pos polisi lintas pertigaan Delangu, Gereka Kristen Jawa, Gereja Kristen Jawa Manjung, Gereja Kapel Santa Ancilla, Polsek Pasar Kliwon, Gereja Katolik Kristus Raja Gatak, dan di kandang kerbau Kiai Selamet di Keraton Solo.
"Roki diduga kabur menggunakan cadar karena pada saat itu banyak pembesuk yang pakai cadar," kata Suhardi. Dia mengakui ada kelalaian dari Polisi yang berjaga.
Suhardi mengatakan Roki alias Atok Prabowo ditangkap pada Januari 2011 lalu di Klaten oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror. Kemudian pada akhir 2011 dia bersama lima orang jaringannya divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena terlibat beberapa aksi teror. Roki divonis enam tahun penjara karena merupakan otak jaringan dan rekannya lima tahun penjara.
Keterlibatan Roki di dunia teror bermula dari pengajian di Masjid Muhajirin, Klaten, pada tahun 2008. Selang beberapa waktu kemudian, Roki mengumpulkan kelima rekannya di Masjid Tarbiyah, Sukoharjo yaitu Agung Jati Santoso, Tri Budi Santoso, Nugroho Budi Santoso, Yuda Anggoro, dan Joko Lelono.
Di sanalah ia mendoktrin arti penting jihad dengan cara amaliat ightalayat, yakni menyerang serta membunuh orang kafir serta orang yang tunduk pada hukum pemerintah Republik Indonesia. Sejak saat itu, Roki mendaulat dirinya sebagai Amir, pimpinan utama timightyalat, dan membentuk struktur organisasi.
Ia pun mewajibkan anggotanya mengikuti pelatihan fisik dan memfasilitasi sebagian anggota tim keahlian merakit bom melalui Irfan, murid Neril, alias Soghir, yang merupakan murid langsung (alm.) Dr Azhari. Gerakan ini mendapat dukungan dana dari kelompok Tim Hisbah pimpinan Sigit Qordowi.
Bantuan dana itu mereka belanjakan sejumlah bahan material pembuat bom berdaya ledak rendah seperti Portasium Nitrat. Bom rakitan itu lalu mereka letakkan di sejumlah tempat seperti pos polisi Dukuh Kerunbaru, pos polisi lintas pertigaan Delangu, Gereka Kristen Jawa, Gereja Kristen Jawa Manjung, Gereja Kapel Santa Ancilla, Polsek Pasar Kliwon, Gereja Katolik Kristus Raja Gatak, dan di kandang kerbau Kiai Selamet di Keraton Solo.
"Roki diduga kabur menggunakan cadar karena pada saat itu banyak pembesuk yang pakai cadar," kata Suhardi. Dia mengakui ada kelalaian dari Polisi yang berjaga.
Sumber : tempo






0 komentar:
Posting Komentar